Ilustrasi.(freepik)
DIREKTUR Pascasarjana Universitas YARSI, Prof. Tjandra Yoga Aditama, mengatakan bahwa kasus penularan virus Nipah yang terjadi di India, bermula dari kelelawar buah, genus Pteropus. Penularan virus Nipah dari kelelawar ini kemudian menular ke manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui makanan terkontaminasi.
“Walaupun memang tidak ada kasus pada manusia di negara kita, tetapi baik kita ketahui tentang tiga publikasi ilmiah virus nipah pada kelelawar di beberapa provinsi kita, berdasarkan penelitian ahli-ahli kita,” ungkapnya, Jumat (6/2).
Ia menjelaskan bahwa penularan virus Nipah di kelelawar Indonesia diketahui melalui penelitian. Pertama, penelitian dari Indrawati Sendow, Atik Ratnawati, Trevor Taylor yang dipublikasikan di jurnal ilmiah internasional Plos bulan Juli 2013. Judul artikel hasil penelitiannya yakni Nipah Virus in the Fruit Bat Pteropus vampyrus in Sumatera, Indonesia.
Hasil penelitian ini menunjukkan laporan bukti molekuler pertama penularan virus Nipah memang beredar di populasi kelelawar buah Pteropus vampyrus di Sumatra.
“Virus ini tidak dapat dibedakan dari virus yang terdeteksi pada kelelawar Pteropus vampyrus di Semenanjung Malaysia. Analisis penelitian menunjukkan bahwa sekuens nukleotida Indonesia dan Malaysia lebih selaras satu sama lain daripada dengan sekuens Bangladesh atau India,” ujar Prof. Tjandra.
Kedua, penelitian lainnya dari Dimas Bagus Wicaksono Putro, Arief Mulyono dkk. Mereka meneliti 64 kelelawar buah dari pasar hewan di Yogyakarta (37 kelelawar) dan di Magelang (27 kelelawar). Dari 64 kelelawar ini sesudah dilakukan penelitian, didapatkan 2 kelelawar di Magelang yang positif tertular virus Nipah. Penelitian ini dipublikasi pada jurnal ilmiah Emerging Infectious Diseases pada April 2025 dengan judul Nipah Virus Detection in Pteropus hypomelanus Bats, Central Java, Indonesia.
Analisis filogenetik selanjutnya menemukan bahwa kelelawar yang positif dalam penularan virus Nipah merupakan genotip Malaysia, yang juga berkerabat dengan virus nipah dari kelelawar Pteropus di Kamboja, dan juga kelelawar Pteropus hypomelanus di Thailand. Penelitian ini menyatakan bahwa temuan ilmiah mereka menunjukkan adanya hubungan genetika yang kuat pada virus Nipah di Asia Tenggara dan mengindikasikan kemungkinan adanya transmisi regional.
Ketiga, penelitian dari Indrawati Sendow, Hume Field dll yang meneliti serologi dan menyimpulkan bahwa penularan virus Nipah telah terjadi pada kalong kelelawar Pteropus vampyrus di Indonesia, namun pada babi belum terjadi. Judul artikel penelitiannya ialah Seroepidemiologi Nipah Virus Pada Kalong Dan Ternak Babi Di Beberapa Wilayah Di Indonesia yang dipublikasi pada “Indonesian Journal of Biology”.
“Para peneliti ini menegaskan bahwa dengan ditemukannya reaktor Nipah pada kelelawar Pteropus vampyrus tetapi tidak pada babi di Indonesia, tidak berarti bahwa ternak babi aman dari infeksi Nipah,” ujarnya.
“Semua hasil penelitian di atas kembali menegaskan pentingnya pendekatan Satu Kesehatan atau “One Health”, yaitu mengkoordinasikan kesehatan manusia, kesehatan hewan dan kesehatan lingkungan di negara kita,” pungkas Prof. Tjandra terkait penularan virus Nipah pada kelelawar di Indonesia. (H-4)

8 hours ago
1




















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5439875/original/004558000_1765404713-000_87QT9HP.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5332528/original/097261700_1756516083-AP25241696205448.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5439908/original/087972500_1765413238-WhatsApp_Image_2025-12-10_at_13.00.15.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5441285/original/023726500_1765471105-Jek.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5442113/original/056839600_1765528039-Ilustrasi_smartphone__tablet__dan_laptop.png)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5402821/original/094181800_1762303903-AP25308793285662.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5391457/original/092387100_1761323170-slot.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4253782/original/008523100_1670476796-Jepretan_Layar_2022-12-08_pukul_12.17.44.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5357811/original/060138400_1758546191-WhatsApp_Image_2025-09-22_at_19.14.32__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5357812/original/010788900_1758546192-WhatsApp_Image_2025-09-22_at_19.14.32.jpeg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5438506/original/048236400_1765308949-Lennart_Karl_gol_bayern_munchen_sporting_ap_matthias_schrader.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5439953/original/025316300_1765417200-rsud_langsa.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5438540/original/032196000_1765326032-Insta360_Antigravity_A1_01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5357521/original/004251000_1758532021-IMG_3168-01.jpeg)