Pakar Pemilu Dorong Ambang Batas Fraksi dalam RUU Pemilu, Bukan Parliamentary Threshold

1 week ago 2
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Pakar Pemilu Dorong Ambang Batas Fraksi dalam RUU Pemilu, Bukan Parliamentary Threshold Gedung DPR, MPR, DPD RI, Jakarta.(Antara)

PAKAR Hukum Pemilu Universitas Indonesia, Titi Anggraini, menegaskan bahwa efektivitas kerja parlemen seharusnya dibangun melalui pengaturan ambang batas pembentukan fraksi, bukan dengan memotong representasi politik warga negara melalui ambang batas parlemen (parliamentary threshold).

“Penyederhanaan parlemen tidak seharusnya dilakukan melalui ambang batas parlemen, melainkan lewat ambang batas pembentukan fraksi, karena prinsip dasarnya adalah suara pemilih tidak boleh dihapuskan, sementara tata kelola parlemen tetap harus efektif,” ujar Titi kepada Media Indonesia, Minggu (1/2).

Alih-alih menaikkan ambang batas parlemen, Titi menawarkan alternatif berupa penguatan tata kelola kepartaian, reformasi kelembagaan parlemen, serta pengaturan ambang batas pembentukan fraksi di DPR dan DPRD.

Menurutnya, ambang batas fraksi mengatur syarat minimum jumlah kursi bagi partai politik untuk membentuk fraksi sendiri. Partai yang tidak memenuhi syarat tersebut tetap sah sebagai peraih kursi, namun harus bergabung dengan partai lain agar memenuhi ketentuan pembentukan fraksi.

“Kalau partai tidak memenuhi jumlah kursi minimal, mereka tetap sah sebagai partai pemenang kursi, tetapi harus bergabung dengan partai lain. Yang diatur di sini adalah mekanisme kerja internal parlemen, bukan hak representasi pemilih,” jelasnya.

Titi mencontohkan, jika jumlah komisi di DPR sebanyak 13, maka partai politik harus memiliki minimal 13 anggota DPR untuk membentuk satu fraksi. Apabila tidak memenuhi jumlah tersebut, penggabungan fraksi menjadi keharusan.

“Misalnya saat ini ada 13 komisi, maka untuk membentuk fraksi harus memiliki minimal 13 anggota DPR. Kalau kurang dari itu, partai harus bergabung dengan partai lain,” ujarnya.

Ia menilai, pendekatan ini dapat menjadi solusi untuk mencegah praktik multipartai ekstrem di parlemen tanpa harus mengorbankan suara rakyat melalui parliamentary threshold.

“Penghapusan ambang batas parlemen tidak berarti parlemen menjadi tidak terkendali atau terlalu terfragmentasi. Efektivitas tetap bisa dijaga melalui desain kelembagaan fraksi, tata tertib DPR, dan penguatan fungsi kepartaian,” kata Titi.

Ia menegaskan, efisiensi tidak boleh dicapai dengan mengorbankan prinsip kedaulatan rakyat. “Efisiensi tidak boleh dicapai dengan mengorbankan representasi,” tegasnya.

Menurut Titi, jika tujuan utama pembuat undang-undang adalah meningkatkan efektivitas parlemen, maka fokus perbaikan seharusnya diarahkan pada arsitektur kelembagaan DPR, bukan pada pemangkasan suara pemilih dalam tahap konversi suara menjadi kursi.

“Intinya, yang perlu dibenahi adalah desain kelembagaan di dalam DPR, bukan memotong representasi politik warga negara,” pungkasnya. (Dev/P-3)

Read Entire Article