Natal di Palangka Raya, dari Elit Global hingga Misteri Kolor Hilang

1 month ago 17
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Ilustrasi. (dok.pribadi/Fahruddin Fitriya)

Tulisan ini adalah lanjutan dari cerita “Natal dan Ayam Bersyahadat di Palangka Raya”

Kenyang menyantap ‘Ayam Bersyahadat’ di rumah Bang Anchu ternyata bukan penutup malam, melainkan sebuah gerbang menuju dimensi lain.

Kala itu Natal 2011, sebuah era yang kini terasa begitu purba namun romantis. Zaman di mana dering PING! dari BlackBerry Messenger (BBM) adalah teror psikologis paling mutakhir, dan WhatsApp belum menjajah kewarasan kita dengan centang birunya.

Sesuai instruksi yang nadanya lebih mirip Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) daripada sekadar ajakan silaturahmi, saya dan rombongan sirkus (Vincen, Bang Anchu, dan Pak Umar) harus merapat ke markas besar Bos Top (Almarhum Topan Nanyan).

Kami datang bukan sebagai tamu, melainkan menyerahkan diri untuk dikuliti isi kepalanya.

Tepat pukul 11 malam, pintu terbuka. Di sudut ruang, lampu pohon Natal berkedip ritmis, menjadi saksi bisu diskusi bawah tanah yang segera dimulai. Di meja, toples nastar bersanding gagah dengan asbak yang sudah penuh puntung rokok, siap menemani perdebatan hingga pagi buta.

Di tengah kepulan asap itu, tiba-tiba sebuah rasa hangat menjalar di dada saya. Di sinilah, di tengah riuh rendah perdebatan di jantung Palangka Raya, saya menyadari satu hal, saya telah menemukan keluarga dan rumah kedua. Jauh dari kampung halaman saya di Pati, Jawa Tengah, kota ini tidak lagi terasa asing.

Palangka Raya bukan lagi sekadar tempat singgah untuk mencari nafkah, melainkan rahim baru yang melahirkan sisi dewasa saya, lengkap dengan saudara-saudara beda darah yang siap berdebat sekaligus merangkul.

Obrolan malam itu bergerak liar, menabrak batas-batas kewajaran. Sekali waktu kami tegang, urat leher menonjol membahas konspirasi Elit Global, Zionis, hingga potensi Perang Dunia III. Namun, tanpa rem, diskusi banting setir menganalisis kasus pencurian celana kolor di jemuran warga.

Anehnya, di hadapan Bos Top, hilangnya kolor diperlakukan dengan takzim, setara dengan membedah pasal makar atau jatuhnya sebuah kabinet.

“Ini murni Pasal 362 KUHP atau ada unsur klenik yang tak terjangkau hukum positif?” tanya kami serius, sambil mencomot kue kastengel.

Bagi Bos Top, tidak ada isu yang terlalu receh. Hilangnya kedaulatan negara dan hilangnya kolor tetangga punya bobot urgensi yang sama, bedanya hanya pada angle penulisan. Di tengah kepulan asap rokok yang makin tebal, Bos Top tiba-tiba menatap saya tajam. Mode santai dimatikan, mode Mahaguru diaktifkan.

“Fit,” tembaknya. Suaranya berat membelah asap. “Wartawan itu bukan juru ketik. Kalau otakmu kosong, tulisanmu kopong. Itu namanya Malpraktik Jurnalistik!”.

Mendengar ucapan itu, saya merasakan tamparan intelektual. Bos Top membongkar dosa terbesar jurnalis daerah yang sering menjadi manusia ‘Palugada’ (Apa Lu Mau Gue Ada) tapi malas berpikir.

“Narasumber, apalagi politisi itu licin, lidahnya tak bertulang. Kalau kamu datang cuma modal pertanyaan ‘gimana tanggapan bapak?’, habislah kau! Kamu cuma jadi tiang mic berjalan,” ujarnya pedas.

Ia menekankan, kualitas berita tidak ditentukan oleh jawaban narasumber, tapi oleh gigitan pertanyaan wartawannya. Tanpa riset, wartawan cuma jadi corong yang membantu menyebar kebohongan yang dibungkus rapi.

Puncaknya, saat waktu seolah berhenti di pukul 3 pagi, Bos Top mengeluarkan kartu as dari Guru Besar Kita, Dahlan Iskan.

Read Entire Article