Ko-Kreasi Pendidikan

5 days ago 17
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Ko-Kreasi Pendidikan (MI/Duta)

KANTOR UNESCO di Paris baru saja meluncurkan dokumen 2026 Youth Report ‘Lead with Youth’ sekaligus untuk memperingati International Day of Education yang tahun ini bertema The Power of Youth in Co-Creating Education pada 24 Januari kemarin. Momen ini membawa pesan penting: bahwa masa depan pendidikan tidak lagi cukup dirancang untuk generasi muda, tetapi harus dibangun bersama mereka.

Selama ini, pendidikan kerap dikelola sebagai proses satu arah: guru mengajar, siswa belajar. Namun, pendekatan ini semakin tidak memadai untuk menjawab kebutuhan abad ke-21. Ketika siswa hanya diposisikan sebagai objek, pendidikan kehilangan daya transformasinya untuk menyiapkan generasi yang mampu berpikir kritis, reflektif, adaptif, dan mengambil keputusan etis dalam situasi kompleks.

Sebaliknya, ketika mereka dilibatkan secara aktif, didengar suaranya, dihargai gagasan kreatifnya, dan diberi ruang berinovasi, maka pendidikan berubah menjadi proses ko-kreasi. Di sinilah agensi siswa (student agency) menjadi konsep kunci dalam pedagogi pendidikan modern. Pedagogi yang perlu berakar pada kolaborasi dan solidaritas, yang membangun kapasitas siswa dan guru untuk bekerja sama dalam rasa saling percaya untuk mengubah dunia.

AGENSI SISWA

Ko-kreasi pendidikan berarti mengakui agensi siswa, yakni kemampuan siswa untuk berpartisipasi aktif, menyuarakan pandangan, dan ikut membentuk pengalaman belajarnya. Mereka diberi ruang untuk mencari makna dan bertindak dengan tujuan mencapai kondisi ideal yang mereka inginkan dalam kehidupannya dan orang lain.

Siswa memiliki keyakinan bahwa mereka dapat memiliki dampak dan pengaruh terhadap pembelajaran dan masa depannya. Hal ini bukan hanya tentang apakah siswa bisa membuat pilihan dalam pembelajarannya, tetapi juga tentang kualitas pilihan yang mereka buat.

Nilai positif pertama dari agensi siswa ialah penguatan motivasi intrinsik. Ketika siswa diberi ruang untuk memilih topik, pendekatan, atau cara mengekspresikan pemahamannya, belajar tidak lagi sekadar kewajiban, tetapi menjadi aktivitas yang relevan dan personal. Siswa belajar karena rasa kepenasaran ingin tahu dan merasa memiliki, bukan semata-mata lantaran tuntutan ujian. Motivasi inilah yang memungkinkan siswa bertahan dalam proses belajar yang menantang dan kompleks.

Kedua, agensi siswa mendorong pemahaman konseptual yang lebih kuat. Siswa yang aktif bertanya, berdiskusi, dan mengeksplorasi ide cenderung membangun makna, bukan sekadar mengingat informasi. Mereka belajar mengaitkan konsep dengan pengalaman nyata dan situasi baru. Dengan kata lain, pengetahuan menjadi sesuatu yang hidup dan dapat ditransfer, bukan sekadar isi buku teks.

Ketiga, agensi siswa berperan besar dalam mengembangkan metakognisi, yakni kemampuan untuk menyadari dan mengelola proses berpikir sendiri. Ketika terlibat dalam perencanaan, pemantauan, dan refleksi pembelajaran, siswa belajar memahami bagaimana mereka belajar. Siswa tidak hanya memahami ‘apa’ yang dipelajari, tetapi juga ‘bagaimana’ dan ‘mengapa’.

Keempat, agensi siswa menumbuhkan tanggung jawab dan ketahanan belajar. Dalam kelas yang memberi ruang agensi, kesalahan dipahami sebagai bagian dari proses, bukan sesuatu yang harus dihindari. Siswa belajar menghadapi ketidakpastian, mengelola kegagalan, dan mencoba kembali. Sikap ini sangat penting di dunia nyata, di mana jawaban tidak selalu tunggal dan solusi sering kali harus ditemukan melalui proses coba-salah.

Pada akhirnya, agensi siswa memperkuat identitas belajar dan suara peserta didik. Ketika pengalaman, minat, dan perspektifnya diakui, siswa mulai melihat diri mereka sebagai pembelajar yang mampu dan bermakna. Identitas ini mendorong keterlibatan jangka panjang dan pembelajaran sepanjang hayat yang melintas ruang dan waktu.

PEMBELAJARAN MENDALAM

Bagi Indonesia, tema peringatan International Day of Education tahun ini bukan sekadar slogan, tetapi perlu dijadikan sebagai refleksi dan uji konsistensi kebijakan. Apakah pendidikan kita sungguh telah memberi ruang bagi siswa sebagai mitra pembelajaran, atau masih memosisikan mereka sebatas objek kurikulum dan target evaluasi?

Kebijakan pembelajaran mendalam adalah pintu masuk strategis yang menandai pergeseran penting dalam cara Indonesia memandang pembelajaran. Siswa tidak lagi diposisikan sebagai penerima pengetahuan secara pasif, melainkan sebagai subjek aktif yang membangun pemahaman, mengaitkan pengetahuan dengan konteks nyata, serta merefleksikan pengalaman belajarnya.

Tentu langkah transformatif yang baik ini perlu diikuti dengan keberpihakan kebijakan yang konsisten: pengembangan profesionalisme guru yang menekankan pedagogi reflektif, fleksibilitas nyata bagi satuan pendidikan, serta evaluasi yang menghargai proses dan bukan sekadar skor. Pendidikan juga kerja ekosistem: keluarga, komunitas, organisasi pemuda, dunia usaha, dan media harus ikut mencipta lingkungan belajar yang memberdayakan dan memuliakan.

Tema The Power of Youth in Co-Creating Education mengingatkan pada pentingnya sebuah kontrak sosial baru untuk pendidikan dan bahwa pendidikan adalah proyek bersama antargenerasi. Anak muda membawa energi dan keberanian, negara dan pendidik membawa mandat dan tanggung jawab publik. Mengakui kekuatan anak muda berarti berani menata ulang kebijakan, bukan sekadar memperhalus narasi. Tanpa itu, masa depan pendidikan akan terus dirancang tanpa suara mereka yang akan menjalaninya.

Itu juga yang diingatkan oleh Nel Noddings dalam bukunya, Philosophy of Education: ‘Pendidikan sejati harus melibatkan niat dan energi mereka yang dididik. Untuk memastikan keterlibatan tersebut, guru harus membangun hubungan dengan siswa berdasarkan kepedulian dan kepercayaan, dan dalam hubungan tersebut, siswa dan guru mewujudkan tujuan pendidikan secara kolaboratif’.

Read Entire Article