Gempa berkekuatan 6,2 magnitude di Pacitan(Dok.Humas BMKG)
PACITAN kembali dilanda gempa tektonik hari ini (6/1). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan gempa Pacitan getarannya terasa hingga ke Yogyakarta dan Solo. Mengapa Pacitan sering gempa?
Secara ilmiah, fenomena ini bukanlah kebetulan, melainkan konsekuensi logis dari posisi geografis dan struktur geologi yang sangat kompleks.
1. Posisi di Garis Depan Zona Subduksi (Megathrust Jawa)
Penyebab utama frekuensi gempa di Pacitan adalah lokasinya yang berhadapan langsung dengan zona subduksi selatan Jawa. Di wilayah ini, Lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah Lempeng Eurasia dengan kecepatan sekitar 6-7 cm per tahun.
Zona pertemuan kedua lempeng ini disebut sebagai Megathrust. Area ini menyimpan energi elastis yang sangat besar akibat gesekan antar lempeng. Ketika batuan tidak lagi mampu menahan tekanan tersebut, terjadi patahan yang dilepaskan dalam bentuk gempa bumi. Karena Pacitan berada di pesisir yang paling dekat dengan jalur tunjaman ini, guncangan dari gempa laut (interplate) akan terasa sangat kuat di sini.
2. Sesar Grindulu: Ancaman dari Dalam Daratan
Banyak yang mengira gempa Pacitan selalu berasal dari laut. Faktanya, Pacitan memiliki "ancaman internal" yang nyata bernama Sesar Grindulu. Patahan aktif ini memanjang dari arah timur laut hingga barat daya, seolah membelah wilayah kabupaten menjadi dua bagian.
Sesar Grindulu adalah sesar geser (strike-slip fault) yang masih sangat aktif. Gempa-gempa darat dengan kedalaman dangkal yang sering dirasakan warga Pacitan seringkali berpusat pada jalur sesar ini. Keberadaan sesar di daratan ini membuat gempa bermagnitudo kecil sekalipun bisa terasa sangat merusak karena pusatnya yang berada tepat di bawah pemukiman.
Info Penting: Fenomena Amplifikasi
Tanah di Pacitan didominasi oleh lapisan sedimen lunak. Hal ini menyebabkan terjadinya amplifikasi, yaitu penguatan gelombang gempa yang membuat guncangan terasa jauh lebih hebat dibandingkan wilayah dengan batuan keras.
3. Jejak Sejarah Gempa dan Tsunami di Pacitan
Catatan sejarah membuktikan bahwa Pacitan adalah zona seismik aktif sejak berabad-abad lalu:
- Tahun 1840 & 1859: Gempa besar di selatan Jawa memicu tsunami yang menerjang Teluk Pacitan.
- 27 September 1937: Gempa berkekuatan M6,8 merobohkan lebih dari 2.200 rumah di Pacitan, menjadikannya salah satu bencana gempa darat paling merusak dalam sejarah Jawa Timur.
- Februari 2026: Gempa M6,2 kembali mengguncang, mengonfirmasi bahwa aktivitas Megathrust masih sangat dinamis.
Apakah gempa di Pacitan selalu berpotensi tsunami?
Tidak semua. Tsunami biasanya hanya dipicu oleh gempa yang memenuhi syarat: magnitudo di atas M7,0, berpusat di laut, dan memiliki kedalaman dangkal dengan mekanisme patahan naik.
Mengapa sering terjadi gempa susulan di Pacitan?
Gempa susulan (aftershocks) terjadi karena batuan di bawah tanah sedang mencari kestabilan baru setelah melepaskan energi besar pada gempa utama.
| Zona Subduksi | Potensi gempa skala besar dan tsunami. |
| Sesar Grindulu | Gempa darat dangkal yang merusak bangunan. |
| Struktur Tanah | Memperkuat guncangan (amplifikasi). |
(H-4)

5 hours ago
1




















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5439875/original/004558000_1765404713-000_87QT9HP.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5332528/original/097261700_1756516083-AP25241696205448.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5441285/original/023726500_1765471105-Jek.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5439908/original/087972500_1765413238-WhatsApp_Image_2025-12-10_at_13.00.15.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5442113/original/056839600_1765528039-Ilustrasi_smartphone__tablet__dan_laptop.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5402821/original/094181800_1762303903-AP25308793285662.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5357812/original/010788900_1758546192-WhatsApp_Image_2025-09-22_at_19.14.32.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5439953/original/025316300_1765417200-rsud_langsa.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5391457/original/092387100_1761323170-slot.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4253782/original/008523100_1670476796-Jepretan_Layar_2022-12-08_pukul_12.17.44.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5357811/original/060138400_1758546191-WhatsApp_Image_2025-09-22_at_19.14.32__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5438506/original/048236400_1765308949-Lennart_Karl_gol_bayern_munchen_sporting_ap_matthias_schrader.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5438540/original/032196000_1765326032-Insta360_Antigravity_A1_01.jpg)
